Assalamu'alaikum, guys!
Kali ini gue bakal ceritain pengalaman gue selama mengikuti kompetisi-kompetisi matematika. Bukannya mau sombong atau apa. Gue mau share aja, siapa tau ada yang mengikuti kompetisi semacam ini juga. Sekaligus memenuhi tagihan Dosen gue. Hehehe

Pertama kali banget gue kenal matematika itu umur 3 tahun deh kayaknya. Gue inget banget, Mama selalu bilang kalo matematika itu ilmu pasti, pasti kepake, pasti sukses, dan pasti hasilnya. Dan gue memang menyukai ilmu yang satu ini. Selain karena "pasti" itu, ilmu ini bisa bikin rasa penasaran gue akan sesuatu terpenuhi. Kalo kata temen gue, "Matematika sama Fisika itu memenuhi kebutuhan berfikir manusia". Yak gue setuju dengan ungkapan ini.

Terus-menerus, ilmu matematika gue dalemin. Dan memang, rasa penasaran itu selalu muncul tiap gue gak ngerti akan suatu soal, atau pembuktian rumus. Sampailah pada kelas 5 SD, gue mulai mencoba mengikuti Kompetisi Matematika tingkat SD. Waktu itu, gue belum mendapatkan apa-apa. Bener-bener masih pure nyoba.

Guru matematika gue, Bu Yanti, selalu support gue untuk terus nyoba walaupun udah gagal. Dan kelas 6, gue ikut lagi. Alhamdulillah, gue berhasil nyabet juara 3 se Jakarta Selatan. Dari situ gue ngeliat peluang besar untuk terus maju, walaupun tersendat.

Masuk ke SMP gue mulai lagi dari awal. Dunia SD dan SMP total berbeda. Mulai dari tipe soal, tingkat kesusahan, sampai sistem kompetisinya. Lebih kompleks, dan lebih banyak pesertanya. Gue mulai belajar dari kakak kelas, dari guru gue, Pak Manshur, dan pastinya dari berbagai macam buku. Dan di saat itu, jarang banget ada buku-buku panduan yang bisa dibeli di toko buku. Bener-bener jarang. Dan gue lebih banyak belajar lewat soal-soal kommat (Kompetisi Matematika) tahun sebelumnya. Sebenernya ini kurang banget buat memperdalam ilmu kami.

Lantas ikut lah gue dalam Kommat pertama di SMP. Dan di Kommat pertama ini, gue gak tembus ke Kabupaten. Mungkin karena bener-bener masih pertama kali ya? Nah terus lah gue coba gali dan gali. Tahun berikutnya gue ikut lagi. Kemajuan! Gue sampe ke tingkat Kabupaten. Tapi nggak lolos ke Provinsi.
Tahun ke tiga gue di SMP, gue mulai ikut OSN dan Kommat. Keduanya memiliki level yang berbeda. Kalo Kommat, levelnya mungkin tidak begitu jauh dari pelajaran kita sehari-hari, tapi lebih kompleks aja soalnya. Kalo OSN, udah lebih ngandelin logika kita, dan soalnya bener-bener setingkat di atas SMP. Simplenya, kalo mau bisa tembus ke tingkat yang lebih tinggi di OSN SMP, kita harus nguasain materi anak SMA. Jadi bener-bener satu level diatasnya.
Dan gue mulai pelajarin berbagai macam soal-soal SMA. Pelan-pelan memang. Tapi setidaknya gue memahami dasar-dasar di SMA. Berkat usaha yang keras dibarengi do'a, gue tembus ke DKI Jakarta. Bener-bener seneng banget gue disana. Tapi sayangnya, semua berhenti karena gue kalah. Rata-rata pemenang memang dari sekolah swasta. Sebut saja BPK Penabur, Kanisius, dan IPEKA Tomang. Tiga sekolah ini memang selalu melekat menjadi juara OSN tingkat SD, SMP, maupun SMA.Masuk ke SMA, gue mulai lagi untuk bisa mempelajari materi-materi Universitas. Yah semua itu karena memang pattern dari OSN adalah selangkah lebih maju. Sudah menjadi sebuah rahasia umum bagi para peserta. Tahun pertama di SMA, gue mulai agak keteter. Semua karena materi pelajaran di sekolah yang kian sulit, dan juga materi tambahan untuk OSN yang kian banyak.
Untungnya, ada pelatihan untuk calon peserta OSN Jakarta Timur. Waktu itu bertempat di Puncak. Disana bener-bener kita bisa belajar sambil bermain, dan bertukar ilmu dengan peserta lainnya. Sepulangnya dari pelatihan selama 2 hari 1 malam itu, gue merasa telah ter-upgrade satu tingkat. Memang, tidak begitu banyak. Tapi gue mengenal istilah-istilah serta rumus-rumus dasar baru yang semustinya sudah gue ketahui sejak lama.

Singkat cerita, gue bener-bener tembus ke Provinsi. Seneng banget! Tapi ya itu dia, gagal lagi untuk maju ke tahap berikutnya. Sekolah swasta masih merajai. Bukannya mau membanding-bandingkan, tetapi mereka mendapatkan fasilitas yang mungkin tidak didapatkan siswa sekolah negeri. Iri sih, banget! Hehehe
Menurut gue, kalo kalian emang bener-bener pengen maju di bidang ini, coba lah untuk lebih rajin mengerjakan soal, membaca buku-buku, sharing dengan teman-teman yang sejalan, dan pastinya, tidak pernah lelah untuk memenuhi rasa penasaran. Karena, penasaran itu kunci dari kesuksesan.

Cukup sekian sharing dari gue, semoga bermanfaat ya!
Cheers! Keep trying, keep believing, keep praying.






0 comments:
Post a Comment