"Sometimes light turns on when you realize that you're about to giving up on everything. You think that life would be really impossible to be risen from a deep black hole. Don't you remember that light can only be seen so bright when you put them on the dark?" - @larasayudea
Banyak yang berbagi cerita soal bagaimana hancurnya hubungan si hawa dan si adam hanya karena kekerasan. Terlepas dari skalanya yang besar atau kecil, tetap saja ujungnya harus berakhir. Tak ayal saya pun bertanya-tanya pada awalnya: jangan-jangan saya juga begitu? Tanpa disadari memercikkan bensin ke sejentik api?
Mulanya pasti sang wanitalah yang akan menangis karena perlakuan fisik yang tak pantas terhadap dirinya. Apalagi kalau semua berakar pada kesalah pahaman laki-laki atas apa yang ingin wanita sampaikan. Coba telaah kembali ketika kita berperilaku maupun bertutur kata. Adakah memang pantas luka eksternal itu kita rasakan menjalar panas di tubuh yang kita jaga ini?
Ada satu cerita kawan saya yang diberikan pelajaran secara fisik hanya karena menghabiskan sore bersama mantannya. Kala itu saya sempat naik pitam; tega-teganya baru jadi pacar saja sudah berani menyentuh tubuh kawan saya dengan kasar. Bagaimana kalau nanti sudah saling bertukar cincin? Bisa habis raga kawan saya itu. Tak ingin berpihak pada satu sisi, saya dengarkan cerita kawan wanita saya dengan saksama. Begitu selesai cerita, amarah pun datang kembali. Tetapi lain, saya sekarang kesal dengan pernyataan teman saya.
"Ya kan daripada dia marah sama gue, mendingan gue bilang aja lagi jalan sama nyokap nemenin belanja kan? Dia aja yang kaya bocah kenapa sampe harus nampar gue sih?", begitu kawan wanita saya berpendapat. Sontak saya minta izin untuk memanjakan otak saya yang penuh dengan opini padanya. Sederhana saja saya berikan analogi jika pasangannya lah yang berjalan-jalan dengan mantannya. Kawan saya langsung tidak setuju dengan bahagia sesaat tersebut, bahkan mengatakan akan langsung memutuskan hubungan. Lantas wajar saja kalau lelakinya itu naik pitam. Apalagi dengan latar hubungan mereka yang sudah bertunangan. Saya ingatkan kembali kawan wanita saya itu bahwa pada dasarnya manusia sama saja kalau sudah berurusan dengan ego, tidak memandang testosteron atau progesteron lagi. Boro-boro memikirkan mana hal yang harusnya dilakukan secara logis. Emosi tak terkendali ditambah ego menghasilkan tindakan yang tak terbayangkan. Tidak jarang, berujung kekerasan.
Kembali kita intermezzo kisah tadi. Siapa yang salah dan siapa yang benar? Tidak ada aksioma disini. Hubungan sama saja seperti tubuh kita ini. Sesehat apapun, sel kanker masih ada dalam diri kita. Bisa nantinya menghentikan laju oksigen dalam tubuh, atau diam saja tak bisa berkutik. Anggaplah ego itu sel kanker. Kalau tengah aktif, entah bagian mana saja yang akan terjalar. Beruntung kalau terdeteksi di awal, bisa kita beri solusi. Kalau sudah sampai stadium akhir? Tak ayal harus cepat ikhlas lepas dunia. Lalu adakah cara redam menjalarnya kanker ini? Sederhana saja, komunikasi yang efektif. Coba kalau pasangan kekasih sama-sama berusaha mengutarakan apa yang mereka rasakan. Emosi tersalurkan, ego teredam, kekerasan bahkan tidak memiliki posibilitas untuk terjadi.
Popularitas Kata "Terserah"
Sebagai wanita kadang kita merasa enggan untuk mengutarakan apa yang kita maksud. Kata yang paling populer sebagai jawaban adalah "terserah". Berbagai alasan tercipta: inginnya sih si pria peka apa yang kita maksud. Duh, alasan ini terlampau klasik. Bagaimana ceritanya pikiran kita dapat tersampaikan dengan kata "terserah"? Spekulasi muncul di benak pria, yang biasanya diartikan sebagai kalimat negatif. Bisa ditebak pula kan apa yang wanita lakukan setelah pria memberi respon atas petunjuknya? Sebagian besar akan kecewa, begitu dangkalnya kah pemikiran pasangannya? Berujung pada terungkitnya masalah di masa lalu yang sebenarnya telah menemukan jalan keluar.
So Girls, start to #selfrespect your own feelings. Never hide it just to avoid problems. Face it and get ready to fix all the 'no' things.
"Kamu pacaran sama aku udah lama kan? Masa masih nggak ngerti sih maksud aku apa? Peka dikit bisa nggak sih?"
Kalimat sakti ini akhirnya muncul dari mulut wanita. It's gonna be long long long day, says the men. Pria cenderung berusaha terlihat mendengarkan segala ocehan pasangannya. Mata saling bertatap, tapi tahukah kalian kalau pikiran pria sebenarnya tidak mengarah ke apa yang kalian utarakan? "Men will just pretend. Not because we don't appreciate the situation. It's more like silence-is-gold phrase will do.", ungkap kawan pria saya yang sering disalahkan oleh pacarnya.
Sebenarnya dederhana saja penyelesaian masalah disini. Libatkan logika, mainkan diksi, dan utarakan secara sederhana. Misalnya saat pacar kalian sedang bertanya tentang pilihan tempat makan yang tepat, utarakan ciri-ciri tempat yang kalian inginkan. "Kayaknya enak deh kalo kita makan pasta gitu... Tapi aku nggak tahu tempatnya, Mas.", kalimat seperti ini akan lebih baik daripada "Terserah kamu, aku ikut aja.". Saat pria menanyakan perihal mau makan dimana, disitulah pria menunjukkan bahwa ia menghargai pilihan Anda. Bukan selalu berarti bahwa pria mencoba untuk menghindari salah pilih tempat yang berujung pertengkaran.
Saya menggolongkan "terserah" dan bagaimana wanita kerap memberikan kode daripada maksud sesungguhnya sebagai pemicu kanker nomor satu. Ego, yang saya ibaratkan sebagai sel kanker, akhirnya terpicu dominan hanya karena kode wanita ini. Pertengkaran akan terjadi karena laki-laki gagal menjadi coder yang baik dan perempuan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa sang laki-laki tidak peka. Perdebatan pun terjadi, sampai akhirnya laki-laki cenderung merasa harga dirinya direndahkan oleh statement pacarnya. "Kamu tuh yang nggak peka!", ungkap sang perempuan. Akhirnya tindakan fisik pun terjadi. Bukan selalu karena laki-laki tersebut memang berperilaku kasar, tapi karena perempuan sudah menginjak harga dirinya itu. Kanker pun sudah menjalar dalam hubungan ini...
Jika tadi saya sudah mengungkapkan kekerasan yang terjadi dalam hubungan cenderung karena salah wanita, kali ini saya akan bahas dari sisi sang pria. Banyak pria yang menganggap bahwa saat mereka tengah bersedih atau malu karena salah terhadap pasangan, adalah hal yang tabu untuk diungkapkan. Kristi Poerwandari, psikolog dan profesor studi gender di UI, mengatakan, pria cenderung melihat emosi seperti takut, malu dan sedih sebagai feminin, sehingga ketika mereka merasa takut atau terancam, emosi itu secara mudah bergeser menjadi kemarahan, yang dianggap sebagai maskulin. Persepsi ini lah yang perlu diantisipasi oleh pria.
Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, terbakarnya emosi negatif yang menyebabkan perilaku fisik dilakukan oleh pria, sebenarnya hanya karena pria merasa harga dirinya direndahkan. Layaknya takut, malu, dan sedih, emosi ini cenderung dilihat sebagai menyusutnya harga diri pria. Padahal tidak ada salahnya pria merasakan emosi tersebut. Ungkapkan saja kepada wanita, biarkan mereka mengerti apa yang dimaksud. Stigma lemahnya pria karena bersedih memang mengganggu lancarnya komunikasi. Interpretasi pria jika takut, sedih, maupun malu lebih menjurus pada wanita yang kemudian tidak dapat merespon dengan tepat. "Kadang saat gue merasa takut kehilangan pasangan, gue jadi over protective. Habis itu kalo ada yang gue rasa nggak sesuai sama pasangan yang udah gue protect semampu gue itu, akhirnya muncul tuh marah. Gue akuin sih abis itu gue kasar ke pasangan gue. Tapi ya gimana lagi? Gue rasa pasangan gue nggak ngerti kenapa gue kayak gitu (red. Over protective).", ungkap kawan pria saya.
Gengsi. Inilah jawaban dari problema pria ini. Pemicu kanker nomor dua ini pun membuat pria melakukan physical abuse terhadap wanita. Apa yang bisa kita lakukan sebagai wanita? Langkah preventif yang tepat adalah berlaku pro aktif. Tanyakan kepada pasangan ketika ia terlihat berbeda. Lazimnya, saat pria merasakan takut, malu, atau sedih, ia akan lebih diam dan berusaha menutupi. Gali apa yang mereka rasakan dengan bertanya, tentunya dengan kalimat yang bermakna kepedulian dan tidak menghakimi pasangan. Lebih baik mengatakan "Mas, kamu kelihatan beda. Boleh aku dengar kisahmu?" daripada kalimat yang menghakimi seperti "Kamu lagi kenapa sih? Percaya kan sama aku? Cerita dong.".
Pentingnya menghargai diri sendiri dan pasangan dapat menjadi langkah preventif kekerasan dalam pacaran. Tidak perlu takut akan pria yang bertindak kasar kalau kita sebagai wanita bisa mengatasinya. Bukan berarti probabilitas kekerasan menjadi nihil, tapi mencegah lebih baik daripada kena tamparan kan? So Girls, start to #selfrespect your own feelings. Never hide it just to avoid problems. Face it and get ready to fix all the 'no good' things.
Palembang, 3 Juni 2016
Larasayu Dea
Untuk Wanita Indonesia
Referensi
1.http://magdalene.co/news-450-kekerasan-dalam-pacaran-fenomena-sunyi-di-indonesia.html
2.http://www.helpguide.org/articles/abuse/domestic-violence-and-abuse.htm
P.s : Ungkapkan komentarmu di Instagram @LarasayuDea. Karena wanita harus pro aktif :)



















